elok,mungkin itu saja...

6 komentar Minggu, 08 November 2009
Seperti petir yang datang tanpa diawali gerimis ataupun hujan , nur ini menjingga kala ia tersenyum dibalik terik yang sedikit memanjakan waktunya ketika raga ini tersudutkan oleh rasa yang terbunuh waktu itu…
Aku tersenyum pada sepasang mata yang menekuni tingkahku , hujamannya menidurkan setiap angan yang terbelit diotakku.jiwa ini tak berkutik ,…diam dan mulut ini seakan terkunci rapat…tiada satu katapun yang terucap setelah sepasang mata ini letih mengagumi parasnya….sungguh elok.. setiap langkah yang diinjakkannya mengingatkanku pada seseorang yang pernah ada dihati ini,caranya melangkah sama persis… hanya wajahnya saja yg sedikit berbeda ia lebih elok .

Aku benci pada roda –roda ini… kenapa ia terus melaju ketika aku ingin berhenti.aku benci pada jalanan ini,kenapa harus ada pemisah ketika laju ini ingin kutempuh….
Semoga aku tak cemburu pada roda – roda dan jalanan ini,karena sebelum hati tertoreh luka senyumannya mampu menumpulkan sedikit kesalku.semoga tak hanya hari ini saja kita bertemu.
read more “elok,mungkin itu saja...”

ketika terik dan hujan tak beradu

3 komentar Rabu, 04 November 2009
Tatapanku ingin segera meminang laut dan beradu dengan bisingnya malam,ketika kau dapati aku dengan sehelai kain tipis diwajahku ,saat itu sipemilik hati pucat dan tak berharap akan sisa udara yang masih terkantongi oleh sebagian cemasku.

Tak lagi berhilir batu-batu didadaku,sesak dalam daya tak terfikirkan dan hilang dalam rerintik tak menentu… tercecar bagai daun-daun yang Kau hadiahkan lewat tiupan anginMu.muram ini ingin kubagi kepada mereka agar ada peduli yang tumbuh setelah ini, tak ada peminta yang terusir dan tak ada pencuri yang meresahkan tiap-tiap hati.aku bersanding atas beban ini.

Tiap sudut kota ini meminta gelap segera beranjak , dan berharap mulai ada cahaya yang menembus kekejaman tadi malam.ketika sepasang mataku tak beradu , menjadi saksi bisu diantara mereka yang terhanyut dalam sedikit mimpi yang kau sisakan untukku

Masih ada cemas disini , sebelum hidup ini berakhir dan sebelum langit menjadi murka kepada awan yang mengantongi air mata mereka .dan anggaplah aku tak pernah menelurkannya untuk enam bulan ini . sedangkan yang aku tahu Cuma tanah disekitarku yang masih pucat dan kelihatan cemas karena merasa terabaikan .dan kini do’anya terbalas oleh musim yang melegakan hatinya.
read more “ketika terik dan hujan tak beradu”

Rndu tebal pada senyum didesa ini

2 komentar Minggu, 01 November 2009
Mataku telanjang mengitari bebatuan ricuh didesaku… kerikil tajam ia menjadi saksi kedatanganku saat ini.tersenyum kecil pada tangkai dan anganku seakan ia bicara pada sesosok yang tak pernah ia kenal, jalanku renta terkadang pandangan ini mati tertikam sang surya . aku tak lagi hafal sudut desa yang dulu menjadi pembatas antara keheningan nuansa desa dengan kerasnya kehidupan dikota. Aku tak pernah sadar kalau akhir-akhir ini aku telah berpaling darinya meninggalkan cerita yang dulu pernah terlunasi disini, bersama teman-teman kecil seusiaku… suara sorai,..tawa bahkan tangis tak henti-hentinya menjadi liku cerita disini.aku masih mengingatnya ketika ayah mengunciku dikamar … siapa yang membukakan pintu jendela kalau bukan mereka-mereka yang usil. Ialah teman-temanku… senyum dan tawa mereka selalu ada untukku.jika ayah mengurungku karena tak mengijinkan aku bermain dengan mereka maka hati mereka juga akan terkurung didesa ini memendam merasa liar yang tak pernah mendapatkan tempat untuk mereka tumpahkan, dan begitu juga dengan aku.

Hayalan-hayalan kecil sempat mempertemukanku pada seraut wajah yang dulu aku rindukan mungkin pada bayang-bayang selaras rerintik hujan ,ketika turun dan memanjakan awan yang bersenandung diatas sana serta memberi tempat pada sebaris lamunan yang tertumpahkan sebelum hujan itu benar-benar reda. Selokan kecil yang menghambat aliran desa dulu disetiap sudut denah yang terpetakan menghilang entah kemana ia tergusur,hanya ada tanda yang sedikit kuingat disana ketika pepohonan kecil yang dulu kuukir nama-nama kita kini telah tumbuh besar dan ukiran itu sempat tak kukenali lagi .

Kotak – kotak kering ,masih belum tergenangi air yang meluap-luap seperti perasaan ini pada tempat kelahiranku.kenapa rinduku setebal ini.tetapi aku hanya sempat membasuhnya sehari saja. Ketika aku datang dan esok aku kembali ditempat yang sedikit mengeraskan cita-citaku. Semoga semua cepat terlaksana dan aku benar – benar berada disini sepenuhnya.menanggung senyum yang tak kutahan dan menahan tangis yang tumpah .kepada semua mungkin aku rindu,… dan esok tak akan lagi kuucapkan kalimat itu
read more “Rndu tebal pada senyum didesa ini”

tentang benci dalam sedikit rasaku

6 komentar Selasa, 27 Oktober 2009
Aku ingin pergi sejenak mengitari damaiku,namun kemana kaki ini harus mengabdi di setumpukan niat dan pada setiap harapan yang kujemur. aku tak punya rasa yang bisa kubanggakan seperti dulu , seperti kisah rembulan pada sebagian malam dan seperti kisah angin pada sebagian gerimis yang belum terbagi dalam curah yang meresahkan fikiran.

Sebelum hijau kunikmati aku tak pernah merasakan kegalauan seperti ini,… perasaan sepi selalu berkecamuk dalam dentanganku.tak ada pembatas ,dan tak ada pula percuma setelah ini….yang aku harap bulan selalu ada pada tiap malam yang beredar dan gerimis selalu ada dalam sebagian masaku, agar aku bisa tersenyum untuknya.


Aku pernah punya benci pada seseorang , tetapi aku tak pernah menganggapnya itu suatu dendam yang sangat ,dan aku juga pernah ada rasa pada seseorang tetapi aku tak pernah menganggapnya itu suatu kebetulan,… karena sampai saat ini rasa itu tak pernah bisa aku elakkan. Jika mereka bertanya antara benci dan rasa yg aku genggam maka akan kujawab “ untuk benci aku hanya bisa menahannya beberapa detik sedangkan untuk perasaan ini aku tak pernah bisa melepaskannya meskipun hanya dalam hitungan detik”
read more “tentang benci dalam sedikit rasaku”

kepada angin,

4 komentar Minggu, 18 Oktober 2009
Sebelum udara ini sesak didadaku, dan sebelum tetesan air mata ini merangkak menjauh lalu memusuhiku,,.,,..,, biarkanlah aku menunda anganku satu bait sebelum nafas ini terhelai panjang dan biarkanlah aku memandangi kesalku seakan tiada berdetak putaran jarum jam yang mengiringiku sejak tadi, seperti detik berganti menit,seperti menit berganti jam dan seperti inilah aku mengagumimu...tak ada ukuran masa dan tak ada penjelas setelah semua terukir disini

entah mengapa hati ini merasa berat melepas kisah yang baru saja kuceritakan pada putaran angin sore tadi, sebelum daun-daun itu berguguran dan sebelum rerintik hujan menggenangi pandanganku .sedikit teguranku pada angin,..jangan kau tumpahkan anganku hari ini karena aku masih menyimpan sedikit kesal untuk esok.aku enggan mengakui semua yang melekat dalam kosongnya perasaanku,saat ini hanya ada sedikit rindu namun tak ada satupun yang menggenapinya ,..

gerimis baru saja kubenci, karena ia datang tak bersama rindu yang ia punya,... waktu baru saja kucela karena ia tak pernah memberi tempat untuk sekejap memikrkannya ,jika hanya ada angin yang ada disekelilingnya aku ingin ia membawa pesanku tentang sedikit tautan rasa yang memaksa hadir sebelum namanya kuulang-ulang dalam tiap kalimat yang mampu kubaca.

kepada angin,.. sedikit kusampaikan disini aku hanya berteman sketsa kosong ,..tak tahu harus beranjak kemana??
read more “kepada angin,”